disaat aku sedang jatuh
jatuh tersungkur lagi terhantuk
kejatuhan aku tidak diperlihatkan
yang tahu hanyalah hati yang butuh
yang butuh pertolongan zahirnya
aku tetap senyap dan menangis sendiri
aku melanggar derita berseorangan
batinku menjerit sekuatnya
mampu ku hanya merayu pada Ilahi
berikan kekuatan pada hati yang lembik ini
Friday, 7 February 2014
unconscious
terjaga aku walaupun masih celik
terkejut aku melihat sekeliling
apakah yang sedang berlaku
mengapa aku di sini
apa keperluan aku berada di sini
ingatan aku seolah dimatikan
suasana menjadi senyap
tiada suara
pergerakan aku menjadi perlahan
semua berlaku sepantas cahaya
aku tidak sedar
rupanya aku masih sedang berdiri kaku
kaku seorang diri ditengah crowd dunia
terkejut aku melihat sekeliling
apakah yang sedang berlaku
mengapa aku di sini
apa keperluan aku berada di sini
ingatan aku seolah dimatikan
suasana menjadi senyap
tiada suara
pergerakan aku menjadi perlahan
semua berlaku sepantas cahaya
aku tidak sedar
rupanya aku masih sedang berdiri kaku
kaku seorang diri ditengah crowd dunia
sedar
tak guna
tak guna aku menanti
menanti sesuatu yang tak pasti
sesuatu yang tak tahu apakah ia sebenarnya
tak guna aku bermonolog
jika kesudahannya tetap tiada apa yang berubah
langkah harus dibuka
selagi kederat tidak memainkan peranan
hati dan akal hanya mampu melihat dan berfikir selamanya
tak guna aku menanti
menanti sesuatu yang tak pasti
sesuatu yang tak tahu apakah ia sebenarnya
tak guna aku bermonolog
jika kesudahannya tetap tiada apa yang berubah
langkah harus dibuka
selagi kederat tidak memainkan peranan
hati dan akal hanya mampu melihat dan berfikir selamanya
tidak mengerti
hari ini aku termagu lagi
melihat dan bermonolog sendiri
janji demi janji aku patri
tapi tetap tak ditepati
hari semakin hari berlalu
membuat aku malu
malu dengan hidupku
malu dengan Tuhan aku
aku yang lemah
bergantungan hidup di pelantar semangat
semangat yang terlipat
tersorok pula di bawah pelipat
aku keliru
mahuku apa?
mengapa sebenarnya?
tercari-cari jawapan yang tak pasti ada
jawapannya juga persis sebuah rahsia
Thursday, 30 January 2014
Tersungkur
sumpah aku menangis
aku menangis keesakan
tangisan yang bisu dan buta
aku tangisi tangga yang menggunung ku daki
akhirnya aku jatuh tersungkur dan tergelincir
adakah aku harus menyerah kalah
sedihnya
hampanya
aku menangis keesakan
tangisan yang bisu dan buta
aku tangisi tangga yang menggunung ku daki
akhirnya aku jatuh tersungkur dan tergelincir
adakah aku harus menyerah kalah
sedihnya
hampanya
Terperangkap
aku disapa
sapaannya aku balas
tujuanku untuk berteman
tujuannya pula berkasih
aku bertindak jujur
dia pula terlalu jujur
aku tak punya maksud
tapi bicara aku disalah tafsir
ingin aku lari
tapi kaki tak panjang
hati aku berat
jasad aku tak berdaya
apakan daya aku telinga lintah
keluhannya aku terdengar
aku cuba untuk berdepan
tapi lidah ku kelu
ingin sekali aku undurkan masa
biar aku tidak pernah dikenali
biar aku hanya menghiasi latar belakang cerita
jika sesenang ini alangkah baiknya
biar semua tiada yang tehiris
tiada yang terguris
aku senang
kau senang
semua tenang
sapaannya aku balas
tujuanku untuk berteman
tujuannya pula berkasih
aku bertindak jujur
dia pula terlalu jujur
aku tak punya maksud
tapi bicara aku disalah tafsir
ingin aku lari
tapi kaki tak panjang
hati aku berat
jasad aku tak berdaya
apakan daya aku telinga lintah
keluhannya aku terdengar
aku cuba untuk berdepan
tapi lidah ku kelu
ingin sekali aku undurkan masa
biar aku tidak pernah dikenali
biar aku hanya menghiasi latar belakang cerita
jika sesenang ini alangkah baiknya
biar semua tiada yang tehiris
tiada yang terguris
aku senang
kau senang
semua tenang
Mengalah
lepaslah kau pergi
pergilah kau tinggalkan aku
tempat ini bukan tempat aku
tempat aku tempat kasta
yang di bawah hanya kuli semata
kau di atas
atas titik diraja kau duduk
kehormat tak bisa dibantah
tak mampu aku untuk sedarjat
jauh panggang dari api
api nya pula kecil dan nyawa ikan
walau pun kata pepatah
menyeluk pekasam
biar sampai ke pangkal lengan
aku rela berundur
menyimpan senjata dan berpaling
pergilah kau tinggalkan aku
tempat ini bukan tempat aku
tempat aku tempat kasta
yang di bawah hanya kuli semata
kau di atas
atas titik diraja kau duduk
kehormat tak bisa dibantah
tak mampu aku untuk sedarjat
jauh panggang dari api
api nya pula kecil dan nyawa ikan
walau pun kata pepatah
menyeluk pekasam
biar sampai ke pangkal lengan
aku rela berundur
menyimpan senjata dan berpaling
Simpan sendiri
sedang aku mencari
pandangan aku kelam
aku menampar diri
sanubari aku tersembam
aku cuba menggeledah
tapi jari aku tersimpul
aku mengubah arah
kaki pula tergeliat
aku menjadi kaku
mata ku mula melilau
aku menjerit
aku meraung
keliling aku sunyi
tak ada orang peduli
laungan aku jadi sia-sia
aku merintih
rintihan itu mengingatkan aku
rupanya aku bisu
walaupun punyai suara yang lantang
tapi tesorok persis emas penuh dikemam
pandangan aku kelam
aku menampar diri
sanubari aku tersembam
aku cuba menggeledah
tapi jari aku tersimpul
aku mengubah arah
kaki pula tergeliat
aku menjadi kaku
mata ku mula melilau
aku menjerit
aku meraung
keliling aku sunyi
tak ada orang peduli
laungan aku jadi sia-sia
aku merintih
rintihan itu mengingatkan aku
rupanya aku bisu
walaupun punyai suara yang lantang
tapi tesorok persis emas penuh dikemam
Hilang
kenal semangat tak?
boleh tolong carikan semangat?
semangat hilang dah seminggu
kalau jumpa semangat
tolong bagitahu dia
yang aku rindu kat semangat
boleh tolong carikan semangat?
semangat hilang dah seminggu
kalau jumpa semangat
tolong bagitahu dia
yang aku rindu kat semangat
Terima kasih
kau sedut bagaikan menghirup oksigen
kau biarkan organ kau tercemar
dibakar
dirosakkan
malah kau selfish
kau cuba bunuh makhluk disekeliling kau
aku adalah crowd kau
walaupun jauh sebatu
udara ini telah pun kau nodai
aku tetap menagih udara yang sama
yang sama kau perlukan
yang sama kau kotorkan
aku terima karena kau darah dagingku
karena kau saudaraku
karena aku teman kau
apa aku mampu hanya menahan
menahan nafas selama mampu
kau biarkan organ kau tercemar
dibakar
dirosakkan
malah kau selfish
kau cuba bunuh makhluk disekeliling kau
aku adalah crowd kau
walaupun jauh sebatu
udara ini telah pun kau nodai
aku tetap menagih udara yang sama
yang sama kau perlukan
yang sama kau kotorkan
aku terima karena kau darah dagingku
karena kau saudaraku
karena aku teman kau
apa aku mampu hanya menahan
menahan nafas selama mampu
Terkemam
akhirnya aku bermonolog
aku berbicara
tetapi tiada bersuara
suaranya tenggelam
jauh tenggelam di dasar hati
nak ku luah tidaklah termampu
jadinya pula tepu dan basi
yang aku ini ingin bersuara
terpaksa menahan
ku paksa mengawal
takut takut bicaraku menjadi bahan di balik cerita
paling termampu hanya
tersenyum dan melihat
aku berbicara
tetapi tiada bersuara
suaranya tenggelam
jauh tenggelam di dasar hati
nak ku luah tidaklah termampu
jadinya pula tepu dan basi
yang aku ini ingin bersuara
terpaksa menahan
ku paksa mengawal
takut takut bicaraku menjadi bahan di balik cerita
paling termampu hanya
tersenyum dan melihat
Wednesday, 29 January 2014
Berhenti
aku terbaring lemah longlai
aku terfikir tapi tak terkata
aku melihat dunia yang terbentang luas
aku tak nampak sedikit pun walaupun celik
tembok setebal kereta kebal mula menjadi lutsinar
apabila ditanya apa yang aku lihat
aku terdiam seribu bahasa
fikiran ku melayang-layang tanpa titik noktah
kotak minda yang terlalu mampat dengan seribu satu cerita
cerita yang penuh plotnya
yang aku sendiri tak tahu hala tujuannya
tak tahu bila tamatnya
mampunya hanya dikemam sendiri
tak mampu berbicara
tak mampu bergerak
mampu ku hanya berhenti
berhenti dari hidup yang penuh pancaroba
sesungguhnya segalanya milik Dia
Dia yang Esa lagi Berkuasa
aku mengeluh
aku mengadu
aku meratap
atas segala ketentuannya
padahal Dia yang memberi segala......
Aku berdosa
aku terfikir tapi tak terkata
aku melihat dunia yang terbentang luas
aku tak nampak sedikit pun walaupun celik
tembok setebal kereta kebal mula menjadi lutsinar
apabila ditanya apa yang aku lihat
aku terdiam seribu bahasa
fikiran ku melayang-layang tanpa titik noktah
kotak minda yang terlalu mampat dengan seribu satu cerita
cerita yang penuh plotnya
yang aku sendiri tak tahu hala tujuannya
tak tahu bila tamatnya
mampunya hanya dikemam sendiri
tak mampu berbicara
tak mampu bergerak
mampu ku hanya berhenti
berhenti dari hidup yang penuh pancaroba
sesungguhnya segalanya milik Dia
Dia yang Esa lagi Berkuasa
aku mengeluh
aku mengadu
aku meratap
atas segala ketentuannya
padahal Dia yang memberi segala......
Aku berdosa
Teruskan
tak ape....
genggam bara api biar sampai jadi arang
alang kepalang biar angan-angan jadi kenyataan
walaupun realitinya sia-sia
entah kenapa ia dipersoalkan
padahal ini semua adalah duniawi
dia tak tahu yang dikejar itu hanyalah bayang-bayang
bayang yang bisa ditakuti
hidup perlu diteruskan
ilmu harus dicari
biar selamat tidak kesesatan
genggam bara api biar sampai jadi arang
alang kepalang biar angan-angan jadi kenyataan
walaupun realitinya sia-sia
entah kenapa ia dipersoalkan
padahal ini semua adalah duniawi
dia tak tahu yang dikejar itu hanyalah bayang-bayang
bayang yang bisa ditakuti
hidup perlu diteruskan
ilmu harus dicari
biar selamat tidak kesesatan
Mimpi
aku berjalan
aku melihat
aku mencari
aku tak berhenti
aku tersungkur
aku jatuh
aku bangun
aku teruskan
aku berlari
aku berhenti
aku melangkah
aku sesat
aku ketakutan
aku membisu
aku berbisik
aku buta
aku meraba
aku dipukul
aku terhantuk
aku terbangun
aku terjaga
rupanya aku bermimpi
Nafas Kelahiran
Bernafas yang tak puas seperti selalu
Aku bingung
Aku hairan
Aku cuba untuk mencari di mana nafas itu
Tiba-tiba dunia ku menjadi gelap
Apabila aku celik rupanya aku berada di tanah orang
Tanah yang bukan milik aku
Tanah yang bukan asal usul ku
Tersentak ku dari lena ini
Bisik perlahan tenyata aku alpa
Aku bernafas di tanah orang
Janji ku mula terpatri
Aku ingin pulang ke tanah ku menculik kembali nafas itu
Irisokka #BJIe #kenapasayasukarumah
30 January 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)