Sunday, 7 June 2015

terkena !

Tali itu,
Kau gunakan,
Kau ikat dan sambung satu per satu,
Kau biar panjang menjela,
Dari bulan,
Dibaling ke bumi supaya aku bisa genggam,
Kau mula tarik dengan pelahan ke langit,
Tanpa sedikit luka hinggap pada ku,
Tiada satu pun....

Hari demi hari,
Hingga tiga per empat jaraknya untuk aku tiba di lapisan ke tujuh,
Tiba-tiba,
Dengan sewenang-wenangnya tali dilepaskan,
Tanpa angin melintang,
Tanpa hujan mencurah,
Dan tanpa kilat memancar,
Aku jatuh.

Yang berada di tali itu,
Aku !
Yang tergantung tadi itu,
Aku !
Yang terhempas ke lantai bumi itu,
Aku.............

Aku! yang kau tarik, yang kau tunggu, yang kau gantungkan dan akulah juga yang terhempas ke bumi.

Terima kasih.

penghabisan

Satu hari nanti,
Aku akan melihat kau dipelaminan
Dan kau akan melihat aku berpimpinan.

Walau jantung bagai nak pecah,
Jika bukan jodoh kita,
Aku harus berserah,
Janji Allah kita tetap bahagia.

Kisah tentang kau tamat di sini.

pepatahku

Yang dikejar dapat,
Yang dikendong berkekalan.

Kasih si jiwa

Hati,
Kalau bisa aku campak kau keluar,
Akan aku gumpal mampat,
Baling jauh-jauh,
Biar kosong jiwa aku tanpa rasa,

Tapi tak!
Aku tahu, itu semua emosi,
Aku tahu itu semua karena si amarah,
Yang menjadi parasit,
Memakan jiwa aku.

Aku kasihkan si jiwa.
Jadi, aku harus simpan hati baik-baik.





Saturday, 6 June 2015

sampai hati

Dahulu,
Aku pegang ego setinggi langit ke tujuh,
Suatu masa,
Kau muncul,
Yang tinggi melangit tadi,
Jatuh ke bumi bagai buah yang masak,
Elok dan sedap dijamah,
Tiba masa,
Kau hilang,
Aku biar ego itu lalu seperti air sungai,
Yang mencari itu, aku,
Bukan kau,
Dan kau, biarkan aku terpinga-pinga,
Sampai masa,
Air sungai juga akan kering jika tercemar,
Yang jatuh ke bumi,
Tak mustahil akan ke langit kembali,
Malah lebih tinggi,
Bila nanti,
Jangan muncul,
Jangan cuba untuk bermain tarik tali lagi.

Aku sakit.